In A World Full of Choice, Which One Are You?

Januari 2018 minggu ke dua ini kita digemparkan oleh berita dari seorang sosok fenomenal. Sudah bisa menebak siapa dia?

Ya, saya mengutip tweet dari Wicaksono atau yang jauh lebih dikenal dengan Ndorokakung pada 8 Januari 2018:
Name makes news. Artinya: dari dalam bui pun masih mampu menghasilkan jutaan klik pembaca.

Tanpa perlu saya sebut namanya, saya rasa anda tahu siapa yang saya maksud. Berita mengenai kehidupan beliau tentu sudah banyak menorehkan tinta dijagat media. Bahkan top tier sekelas Kompas mengadakan rating, per tahun 2017 siapa saja tokoh yang menjadi sorotan selama tahun 2017 berlangsung. Si tokoh fenomenal ini pun menjajaki urutan ketiga. Setelah tokoh RI 1, dan juga mantan ketua DPR.

Kali ini, lagi dan lagi, masyarakat kembali digemparkan atas kehidupan pribadinya. Sebuah lembaran kelam yang bisa saja dialami oleh siapa saja tanpa pandang bulu. Namun, karena keberadaannya tentu lembar kelamnya, tentu menjadi konsumsi publik.

Terlebih, saat saya menuliskan ini belum ada klarifikasi yang jelas perihal kasus ini. Sehingga, yang saya terima adalah berbagai spekulasi dari mereka yang adalah pendukung, dan juga mereka yang bukan pendukung.

Sejenak, hal ini mengingatkan saya kepada 2 pengarang yang ia tuliskan dibukunya.

John Green dan juga Antoine de Saint-Exupéry.

Pertama, John Green.
Saya teringat quotes miliknya yang berbunyi demikian:

That’s always seemed so ridiculous to me, that people want to be around someone because they’re pretty. It’s like picking your breakfast cereals based on color instead of taste.

Kedua, Antoine de Exupéry.

On ne voit bien qu’avec le cœur. L’essentiel est invisible pour les yeux

it is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye

hanya dengan hati kita bisa melihat yang sebenarnya

Berangkat dari situ, saya tergerak untuk membuat polling random via Instagram. Saya ingin mengetahui, mana yang menjadi pilihan banyak orang. Apakah rasa atau warna.

Lantas apa kaitannya quotes tersebut? Seperti kata John Green, mari kita analogikan bahwa manusia adalah sereal. Kemudian, analogi tersebut kita angkat kepada tragedi si tokoh fenomenal ini.

Ibaratkan warna adalah status kedudukan, agama dan ras beliau. Sedangkan, rasa adalah performa kerja dan karakternya. Darisana setidaknya, ada 3 hal yang saya pribadi refleksikan:

1. Apakah kita melihat si sosok ini, ketika menjadi PEMIMPIN dari sisi RASA atau WARNA?
2. Jika warna, apakah masalah ini memudarkan warnanya?
3. Jika rasa, apakah rasanya menjadi berubah?

Bagaimana menurut anda?

Sebagai penutup, saya juga memasukan quotes dari Antoine de Exupéry dalam tulisan ini. Dari analogi sereal tersebut, alangkah baiknya untuk kita ingat bahwa ada kalanya, kita manusia sangat terbatas untuk mampu melihat lewat mata batin. Ada kalanya ini bukan soal rasa yang mampu lidah kecap ataupun warna yang dilihat mata.

Biar sekiranya hal ini menjadi refleksi bagi kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s