Milenials, Paradoks Dalam Keseharian.

Kontemplasi hari ini dimulai dari pekerjaaan kemarin, bacaan pagi dan target hari ini. Sisa pekerjaan kemarin: visit pembudidaya ke desa di wilayah Bogor. Bacaan saya pagi ini: Pendidikan, Pembangunan dan Kesadaran Kritis. Target saya hari ini: dapat tanda tangan thesis counselor supaya bisa print soft cover supaya bisa daftar thesis defense. Tulisan ini akan berkisar mengenai bagaimana kita, saya dan anda sebagai generasi milenials dalam keseharian mengejar target kita.

Pendidikan Sebagai Eskalator

Dalam tautan yang saya munculkan, disebut bahwa

“Pendidikan yang dilihat dan diharapkan banyak orang sebagai jalur emansipasi mereka, terutama bagi mereka yang berasal dari kelas bawah”

Hampir kebanyakan dari kita percaya bahwa nasib kita bisa berubah lewat pendidikan, hal ini kita cerna dari banyak hal. Wejangan orang tua yang sudah turun temurun, Pemberitaan media, cerita dalam sinetron, dan juga embel-embel universitas swasta. Maka rata rata universitas ataupun punya link dengan beberapa tempat bekerja. Biasa marketing universitas akan menjual, tenang saja pak/bu anak bapak kami siapkan menjadi sarjana yang siap kerja nantinya.

Setelah bertahun-tahun saya menempuh studi, baru saya merasa saya pribadi merasa cukup bodoh. Rasanya seperti saya membayar nominal sekian puluh yang mendekati ratus juta hanya supaya saya bisa bekerja. Tidak memungkiri memang lewat studi s1 ini banyak sekali yang saya dapat, cara pandang, networking, confidence, dan masih banyak intangible asset lain yang didapat dari menempuh studi s1. Kendati demikian, hal ini tetap seperti ironi mendadak. Universitas rasanya sudah membelok dari adi kodratinya yang seharusnya melahirkan cendekiawan, malah jadi hanya lulusan yang siap kerja belaka. Rasanya seperti institusi pendidikan tidak lagi mencerdasarkan tapi memproduksi robot yang siap fungsi.

Hal ini juga yang mungkin memicu generasi milenials mudah enek dengan tempat kerjanya. Sebagai afirmasi saya menyediakan studi kasus mengenai job embeddedness . Kini banyak anak muda yang beralih menjadi wirausahawan, khususnya di industri kreatif. Bermacam peluang digali oleh muda mudi. Sayang, tidak banyak juga usaha yang bertahan. Perhitungan yang meleset, dan juga pentokan biaya menjadi alasan. Sebagai contoh, mari kita ambil kisah dari pasar santa. Sekarang ini, banyak bisnis yang hipster. Kurangnya kemampuan eksekusi menjadi alasan utama. Mereka yang tak mampu bertahan biasanya akan kembali menjual cv kepada perusahaan yang dianggap mampu membayar kompetensi mereka.

Pendidikan bagaikan eskalator. Kelas menengah mencoba bertahan dan mendobrak keadaan lewat pendidikan. Nyatanya, pendidikan yang disediakan kita tidak cukup kuat untuk supaya kita mampu mendobrak keadaan. Pendidikan yang kita terima hanyalah ajaran ajaran yang begitu saja. Setelah lulus, tumpukan skripsi dan revisi itu akan kemanakah? Seberapa besar peran skripsi yang didaulat sebagai salah satu syarat kelulusan? Apa artinya duduk dikelas selama empat tahun? Apa benar semuanya akan membuat penghidupan kita lebih baik?

Setelah Berpendidikan Harus Kejar Target

Nyatanya memang demikian. Setelah lulus kuliah, hal yang harus kita lakukan adalah bertahan hidup dan menghabisi hari lewat bekerja. Kebanyakan memilih jalur hidup lewat menjadi karyawan disuatu perusahaan. Banyak milenials yang menyebut diri sebagai corporate slave atau budak kapitalisme. Banyak juga yang menjadi optimis untuk menggapi targetnya.

Target utama milenials kelas menengah saat ini adalah masalah papan. Isu ini banyak diangkat oleh beberapa media tier atas.  Tautan ini hanya salah satu berita saja. Milenials diharapkan untuk mengejar target oleh orang tuanya. Target utamanya berkisar pada dua hal yaitu beli rumah dan juga punya kendaraan pribadi. Belum lagi target kultural seperti perempuan sebelum 25 harus ‘laris’ dan untuk lelaki 30.

Target lain juga seperti jabatan tertentu sebelum usia sekian. Sehingga tak mengherankan kini banyak korporat yang menjual Management Trainee sebagai jalur percepatan karir.

Go extra Mile

Sebagai seorang yang masih bergumul dengan studi tahap akhir dan juga pekerja dengan pengalaman kemarin sore, saya masih belum menemukan rumusan bagaimana seharusnya milenials menjalani ini semua, khususnya milenials kelas menengah.

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa ada kalanya kita harus menggunakan ‘luck’. Sayangnya, saat ini ‘luck’ terbatas. Kehadirannya seperti sumber daya yang tidak dapat diperbaharui kembali. Semakin tingginya jumlah populasi, semakin terbatas yang memilikinya. Kabar baiknya, ‘luck’ dapat diciptakan lewat kerja keras. Meskipun tidak ada garansi bahwa kerja keras pasti akan mengantarkan kita pada target yang ingin kita capai. Setidaknya dengan kerja keras, kita bisa selangkah lebih dekat dengan apa yang ingin dicapai.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s